JAKARTA, JAGAMELANESIA.COM – Perjalanan Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum., C.L.A., hingga sampai pada posisi saat ini sebagai Ketua Komite III DPD RI memiliki kisah yang sarat makna tentang perjuangan, pendidikan, kerja keras, dan pengabdian.
Pada 19–20 Agustus 2026, DPD RI menetapkan Filep Wamafma sebagai Ketua Komite III DPD RI untuk tahun sidang 2026–2027. Penetapan tersebut menegaskan kepercayaan lembaga perwakilan daerah di Senayan terhadap senator asal Papua Barat tersebut. Dr. Filep Wamafma juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Komite I DPD RI pada periode sebelumnya.
Namun, di balik posisi tersebut terdapat perjalanan hidup yang tidak mudah. Saat ditemui awak media pada Jumat (28/8), Filep mengenang masa mudanya berjuang keras untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi saat belum hadirnya dana Otonomi Khusus (Otsus) sehingga akses pendidikan bagi mahasiswa Papua masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sulit, ia bersama sejumlah mahasiswa asal Biak memilih untuk tidak menyerah dengan keadaan. Mereka bekerja sambil kuliah demi memenuhi kebutuhan pendidikan. Salah satu pekerjaan yang pernah dilakukannya adalah menggali dan memasang tiang pembatas jalan di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Manokwari, hingga kawasan Angkatan Laut.
“Tiang-tiang itu bagi saya bukan sekadar tiang jalan. Itu adalah saksi bisu perjuangan kami sebagai mahasiswa. Di situlah kami bekerja, memeras keringat, mencari biaya untuk membayar kuliah, dan memperjuangkan cita-cita,” kenang Filep.
Hari ini baginya, ketika ia berdiri sebagai Ketua Komite III DPD RI, tiang-tiang tersebut menjadi simbol perjalanan panjang seorang anak Papua yang berjuang dari bawah. Perjalanan itu menjadi contoh bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari kemapanan dan fasilitas yang lengkap, melainkan dari keberanian untuk bekerja keras ketika keadaan serba terbatas.
Filep menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi muda Papua dan Indonesia. Menurutnya, pendidikan harus menjadi prioritas dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
“Anak muda harus siap dan berani bekerja keras untuk cita-citanya. Jangan hanya bermimpi, bangun dan berjuanglah. Kesuksesan itu tidak diperoleh secara instan. Jangan pernah hanya mengandalkan mimpi. Mimpi harus diperjuangkan dengan kerja keras, ketekunan, doa, dan keberanian untuk bertahan. Berjuanglah sampai keringat dan air mata menjadi saksi dari setiap langkahmu. Tuhan melihat setiap jerih payah dan perjuangan kita. Jadi tidak ada perjuangan yang sia-sia,” tegas Filep.
Kini, pengalaman masa lalu itu menemukan makna baru. Dari mahasiswa yang dahulu bekerja menggali dan memasang tiang jalan demi membayar kuliah, Filep Wamafma dipercaya memimpin salah satu alat kelengkapan penting DPD RI sekaligus mewakili daerah Papua Barat yang telah berjalan dua periode saat ini.
Adapun Komite III DPD RI memiliki ruang lingkup tugas yang berkaitan dengan sejumlah sektor strategis, antara lain pendidikan, agama, kesehatan, kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olahraga, kesejahteraan sosial, perlindungan perempuan dan anak, tenaga kerja, serta ekonomi kreatif.
Karena itu, kepemimpinan Filep di Komite III bukan sekadar pencapaian pribadi. Bagi masyarakat Papua, perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa anak daerah yang pernah merasakan langsung sulitnya memperoleh pendidikan dapat tumbuh menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan nasional.
Bahkan dalam menjalankan tugasnya saat ini, Filep secara konsisten menyoroti pentingnya kebijakan pendidikan yang berpihak kepada daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, termasuk penguatan Program Indonesia Pintar (PIP), KIP Kuliah, beasiswa afirmasi, dan pembangunan sarana pendidikan.
Dari keringat di pinggir Jalan Yos Sudarso Manokwari, menuju ruang-ruang pengambilan keputusan di Senayan, perjalanan Filep Wamafma menjadi pesan sederhana,
“’Jangan pernah meremehkan perjuangan yang dimulai dari bawah. Sebab, dari kerja keras dan ketekunan itulah masa depan dapat dibangun dengan cemerlang”.








