Jakarta – Ketua Solidaritas Muda Indonesia Timur (SMIT), Mesak Habari, secara tegas mendesak pencopotan Kapolda DKI Jakarta dari jabatannya. Kepemimpinan Polda DKI dinilai telah gagal menjalankan tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik secara utuh, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kronologi kejadian yang disampaikan pun berubah-ubah dan hanya menampilkan satu sisi perspektif sementara keterangan pihak korban yang muncul belakangan menunjukkan perbedaan fakta yang sangat mendasar.
“Ketika kepolisian menyampaikan informasi yang tidak utuh, yang lahir bukan kepastian hukum, melainkan kegaduhan. Dan dari kegaduhan itulah rasisme menemukan panggungnya,” tegas Mesak dalam pernyataan resminya Jum’at (31/7).
SMIT menilai gelombang ujaran kebencian yang menyerang masyarakat Indonesia Timur—termasuk sebutan hinaan “monyet” dan berbagai bentuk penghinaan rasial lainnya—tidak dapat dipisahkan dari buruknya tata kelola informasi yang dilakukan aparat penegak hukum. Pihak yang seharusnya meredam konflik justru dinilai telah membuka ruang luas bagi munculnya stigma diskriminatif terhadap satu kelompok masyarakat tertentu.
“Rasisme tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh ketika negara gagal mengendalikan narasi, gagal menghadirkan fakta secara utuh, dan gagal menindak tegas mereka yang menyebarkan kebencian,” tambahnya.
Oleh karena itu, SMIT mendesak Mabes Polri segera memeriksa seluruh pihak yang diduga menyebarkan konten serta ujaran rasis yang menargetkan warga Melanesia di media sosial.
“Negara tidak boleh hanya sibuk mengejar pelaku tindak pidana, tetapi juga harus menindak tegas siapa pun yang sengaja mengubah tragedi menjadi alat untuk menyebarkan kebencian rasial,” ujar Mesak.
Ia pun memperingatkan: jika diskriminasi terhadap saudara kita bangsa Melanesia terus dibiarkan, maka negara sedang mempertontonkan kemunafikan politik yang nyata.
“Jangan menghina rakyat Melanesia sebagai ‘monyet’, tetapi di saat yang sama hidup dari gas Blok Masela, menikmati kekayaan nikel dan emas Maluku Utara, serta memanfaatkan potensi panas bumi di wilayah Flores dan kepulauan Maluku. Terlalu munafik jika negara terus-menerus mengambil kekayaan dari tanah Timur, namun membiarkan martabat manusianya diinjak-injak tanpa perlindungan apa pun,” kritik Mesak tajam.
Ia menambahkan peringatan keras: “Bila negara terus diam dan membiarkan rasisme berjalan tanpa hukuman, maka yang sedang dipertahankan bukanlah persatuan Indonesia, melainkan struktur ketidakadilan yang selalu mengorbankan rakyat wilayah Timur. Kami menolak negara yang hanya datang untuk mengambil sumber daya alam, tetapi abai dan tidak mau melindungi harga diri manusia yang tinggal di atasnya.”
“Keadilan tidak akan pernah lahir dari informasi yang timpang. Dan persatuan bangsa tidak akan pernah terwujud selama rasisme masih dibiarkan hidup dan berkembang di ruang publik,” tutup Mesak Habari.
“Copot Kapolda DKI Jakarta! Periksa para penyebar ujaran rasis! Sebab tanpa keadilan, persatuan hanyalah slogan kosong belaka.”








