BerandaOpini81 Tahun Merdeka: Kemerdekaan Itu Masih Fatamorgana Bagi Rakyat

81 Tahun Merdeka: Kemerdekaan Itu Masih Fatamorgana Bagi Rakyat

Penulis: Supanji S. Tawari
Jurnalis media online

Tepat pukul 10.00 WIB, Istana Merdeka bergemuruh dengan upacara megah. Pejabat negara berbaris rapi, berjas berwarna-warni, berdasi, tersenyum lebar di hadapan ratusan kamera, merayakan usia ke-81 kemerdekaan NKRI. Namun di balik gemerlapnya seremonial itu, satu pertanyaan tajam melukai hati jutaan rakyat: Sampai Kapan Kita Akan Dibohongi Atas Nama Kemerdekaan yang Tak Pernah Dirasakan Oleh Rakyat Biasa?

Secara hukum, kita memang merdeka. Tapi secara nyata, kemerdekaan itu hanyalah sandiwara. Ia terlihat indah dari jauh, namun lenyap seketika saat rakyat mencoba meraihnya. 81 tahun berlalu, darah dan air mata para pendahulu seolah diinjak-injak oleh kebijakan yang lebih memihak pada kepentingan segelintir elit dan pengusaha, bukan pada nasib rakyat kecil.

Kami menegaskan dengan lantang: Ini Bukan Kemerdekaan! Bagaimana bisa disebut merdeka jika kekayaan alam bumi pertiwi, mulai dari Sabang sampai Merauke, digali habis, dikirim ke luar negeri atau dinikmati di pusat, sementara daerah asalnya ditinggalkan miskin, rusak, dan terabaikan?. Bagaimana bisa disebut merdeka jika rakyat masih harus berhutang, menjual harta, bahkan mengorbankan nyawa hanya demi berobat dan menyekolahkan anaknya?. Bagaimana bisa disebut merdeka jika negara seolah menjadi benteng bagi mereka yang berkuasa, namun menjadi tembok penghalang bagi mereka yang mencari keadilan?

Pemerintah pusat harus berani berterus terang: Kalian telah gagal menjalankan amanah konstitusi. Cita-cita kemerdekaan untuk memajukan kesejahteraan umum belum terwujud. Dan jika kalian mengaku sebagai pelayan rakyat, maka berlututlah dan minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh bangsa ini! Karena kalian telah mengkhianati janji luhur yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan seluruh sila Pancasila yang kalian ucapkan setiap upacara.

Jangan menuntut kesetiaan rakyat jika kalian sendiri melanggar perjanjian negara. Jangan kaget jika suatu saat rakyat lelah dan mulai bersuara lantang, mempertanyakan keberadaan negara ini, bahkan meminta jalan lain yang lebih adil. Keutuhan NKRI tidak dijaga dengan pasukan pengamanan, melainkan dengan Keadilan yang Dirasakan Merata. Jika rakyat sejahtera, adil, dan terlayani dengan baik, maka tidak ada kekuatan apa pun yang mampu memecah belah bangsa ini. Tapi jika sebaliknya, maka jangan salahkan rakyat jika mereka mulai kehilangan kepercayaan.

Rakyat tidak butuh pesta meriah, tidak butuh pidato berapi-api yang tak berisi. Rakyat tidak meminta bantuan sembako atau makan gratis yang mempermalukan harkat martabatnya. Rakyat hanya menuntut hak konstitusionalnya: Pendidikan yang benar-benar gratis dan berkualitas, serta Kesehatan yang menjamin nyawa tanpa memandang isi kantong.

Selama dua hal itu belum terwujud, selama kekayaan alam masih merusak daerah asalnya dan hanya menguntungkan pusat, maka 81 tahun kemerdekaan itu hanyalah angka mati. Selama itu pula, kita berteriak: Kami Belum Merdeka! Kemerdekaan Itu Masih Jauh dari Jangkauan Rakyat!.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru