WONDAMA, JAGAMELANESIA.COM – Wakil Ketua Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) Kabupaten Teluk Wondama, Marten Ramar menyampaikan makna dan histori piring bermotif unik yang ada di daerah tersebut. Ramar menuturkan bahwa ia merupakan salah satu keturunan dari Marga Ramar generasi ketiga.
“Piring keramik bermotif indah seperti ini adalah salah satu barang yang sejak lama menjadi bagian dari mas kawin atau mahar yakni hantaran dalam tradisi pernikahan di banyak wilayah Nusantara, termasuk di Papua dan Teluk Wondama,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Rabu (24/6/2026).
“Piring ini bukan sekedar benda mati namun mengandung tiga makna yakni pertama, melambangkan rezeki yang melimpah, keutuhan rumah tangga, dan harapan kehidupan yang penuh kebahagiaan. Kemudian kedua, bentuknya yang bulat bermakna kesatuan, keutuhan, dan keabadian ikatan pernikahan. Dan ketiga, motif burung berpasangan dan bunga melambangkan kasih sayang, kesetiaan, serta kemakmuran,” urai Marten.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan sejarah masuknya piring tersebut ke Nusantara dan Papua yakni pada awal mula perdagangan sejak abad ke-15 dimana pedagang Tiongkok membawa keramik sebagai barang dagangan utama. Keramik ini dikenal tahan lama, awet, dan dianggap mewah, sehingga menjadi barang bernilai tinggi.
“Karena mengandung nilai yang tinggi maka diterima dalam tradisi lokal, dan masyarakat adat mengadopsinya menjadi bagian mas kawin karena lebih awet dibandingkan wadah tradisional dari kayu atau tempurung, dianggap melambangkan status, kemampuan mempersiapkan kehidupan baru dan dianggap sebagai lambang keberuntungan yang selaras dengan nilai adat setempat,” jelasnya lagi.
“Dalam sejarah perkembangannya di Papua melalui jalur perdagangan laut dan pelabuhan, piring keramik ini lantas menyebar hingga ke wilayah pesisir seperti Teluk Wondama. Lama-kelamaan ia menjadi bagian tak terpisahkan dari hantaran, bahkan menjadi barang pusaka yang diwariskan turun-temurun,” kata Marten.
Marten Ramar juga menjelaskan adanya pengaruh budaya Tiongkok yang dapat dilihat dari teknik pembuatan yakni teknik pembakaran dan pembentukan keramik yang berasal dari keahlian panjang budaya Tiongkok. Menurutnya, makna simbolik yakni bentuk bulat melambangkan surga, keutuhan, dan keberuntungan sedangkan motif burung berpasangan sebagai simbol kesetiaan dan pernikahan yang harmonis. Kemudian, bunga dan warna cerah melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan
“Maknanya sangat kental, yakni penyatuan nilai-nilai yang kemudian disesuaikan dan diselaraskan dengan kearifan lokal Papua, sehingga bukan lagi benda asing, melainkan bagian dari identitas budaya setempat,” katanya.
“Kaitan dengan KAPP, produk kerajinan budaya dapat menjadi desain baru yang memadukan motif tradisional Tiongkok dan unsur khas Papua atau Wondama. Juga bisa menjadi daya tarik wisata sebagai bagian cerita warisan budaya untuk menarik wisatawan. Lalu, jadi peluang usaha untuk melatih pengusaha muda memproduksi atau memasarkan barang bernilai budaya tersebut,” katanya. (MW)








