Labuha – Musim kemarau yang melanda Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, menjadi tantangan nyata bagi para petani. Keterbatasan air berisiko menurunkan produktivitas lahan dan hasil panen. Di sinilah peran Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) hadir mendorong pertanian modern yang lebih adaptif dan efisien.
Fasilitator Kecamatan Gane Barat Selatan, Gaharal Ermet, menjelaskan TEKAD berkomitmen mengembangkan pertanian produktif dan berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan hortikultura melalui lahan percontohan (demplot) cabai rawit dan tomat.
“Demplot ini menjadi ruang belajar langsung bagi petani mulai dari pengolahan lahan, pemilihan benih berkualitas, pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman,” ujar Gaharal.
Di tengah musim kemarau, pengelolaan air menjadi kunci utama. TEKAD mendorong penggunaan sistem penyiraman yang hemat air, pemanfaatan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah, serta penyesuaian jadwal tanam agar tetap optimal meski curah hujan menurun.
Program ini tidak sekadar mengejar peningkatan produksi. Lebih dari itu, TEKAD membekali petani melalui pendampingan berkelanjutan, peningkatan keterampilan, dan penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Tujuannya: pertanian bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan pangan, melainkan menjadi sektor usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan.
“Pertanian modern bukan sekadar meningkatkan hasil panen, melainkan membangun kemampuan petani untuk menghadapi perubahan iklim, mengoptimalkan potensi desa, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” tegas Gaharal.
Dengan partisipasi aktif warga dan pendampingan yang konsisten, pertanian modern di Gane Barat Selatan diharapkan menjadi model transformasi ekonomi desa yang tangguh terhadap perubahan cuaca sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.








