JAGAMELANESIA.COM – Pemuda asal Kuri, Maikel Werbete menyampaikan bahwa pihaknya menagih komitmen PT Wijaya Sentosa yang menyatakan mendukung kemitraan bisnis masyarakat. Menurutnya, komitmen itu disampaikan oleh direktur PT. Wijaya Sentosa.
“Diantara penyampaian direktur PT. Wijaya Sentosa adalah mengajak kami masyarakat adat untuk bermitra dengan perusahaan dalam segala hal, bukan hanya pengelolaan hasil hutan tetapi juga terkait bisnis apa saja dari masyarakat. Tapi hal ini belum terwujud, dan saat ini dipertanyakan oleh kami masyarakat adat,” kata Maikel dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).
“Beberapa bulan lalu, dalam hal kemitraan, PT. Sinar Wijaya Group di Jakarta minta kita masukkan penawaran suplai dan sudah dimasukkan, malah sudah empat kali terakhir bulan desember, namun kami tidak disikapi dan jawaban mereka justru minta kami masukkan lagi penawaran. Kami anggap bahwa mereka mempermainkan kami masyarakat adat,” ujarnya lagi.
Oleh sebab itu, Maikel mengatakan pihaknya akan mengambil tindakan tegas untuk menagih komitmen direktur PT Wijaya Sentosa tersebut.
“Dalam waktu dekat kami akan memanggil direktur PT. Wijaya Sentosa melalui Kepolisian Teluk wondama untuk mempertanggukan pembicaraannya terhadap kami masyarakat adat dalam hal kemitraan. Bagi kami, PT. Sinar Wijaya Group bohongi masyarakat adat dalam hal kerjasama suplai BBM solar Industri ke PT. Wijaya Sentosa, masyarakat adat akan perkarakan,” katanya.
Maikel menambahkan, masyarakat adat telah kecewa dan memprotes PT. Wijaya Sentosa dan PT. Wukira Sari atas kerusakan hutan adat atau daerah kanservasi tinggi yakni hilangnya gunung yang menjadi teras depan Gereja Daun di dekat tempat keramat masyarakat suku besar Kuri.
“Saat ini di lokasi itu telah didirikan kantor PT. Wukira Sari dan hingga saat ini belum ada penyelesaian oleh manajemen PT. Wukira Sari. Walaupun kami masyarakat adat sudah menyampaikan hingga ke Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui BP3OKP dan dinas terkait,” sebutnya.
“Selain itu, kami juga memprotes pelanggaran di kawasan Telaga Awan yang menjadi daerah sakral bagi suku kuri. Terkait semua permasalahan ini, maka terjadi pertemuan antara masyarakat adat dan direktur PT. Wijaya Sentosa yakni Edison untuk mengambil langkah penyelesaian, namun tuntutan kami tidak sepenuhnya terealisasi, termasuk komitmen kemitraan tersebut,” ujar Maikel. (MW)








